POTENSI PENERAPAN KONSEP “LINGKUNGAN 20 MENIT” PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KOTA SEMARANG

Nuzlia Rahdini, Agung Budi Sardjono

Abstract


Abstract: The 20-minute neighbourhood is becoming a popular concept today to create inclusive, livable, and sustainable residential areas. Namely by designing residential areas that are living locally, where residents can move and fulfill their daily lives just by walking for 20 minutes. To achieve this, it takes a residential area that has characteristics following the concept of a 20-minute neighbourhood. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. This study aims to examine the elements of residential areas located in Krobokan Village, West Semarang District, so that its potential is known for the application of the concept 20-minute neighbourhood in Semarang City. The results of the study indicate that the residential areas have been following the characteristics of the concept of the 20-minute neighbourhood, namely an area equipped with various basic facilities with a short distance from the place of residence. It's just that the condition of the existing neighbourhood infrastructure is not yet walkable or friendly to pedestrians.

Abstrak: Lingkungan 20 menit menjadi konsep yang populer saat ini untuk menciptakan suatu kawasan permukiman yang inklusif, layak huni, dan berkelanjutan. Yaitu dengan merancang kawasan permukiman yang bersifat living locally atau hidup secara lokal, dimana penghuninya dapat beraktivitas dan memenuhi kehidupan sehari – hari hanya dengan berjalan kaki selama 20 menit. Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan kawasan permukiman yang memiliki karakteristik sesuai dengan konsep lingkungan 20 menit. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Bertujuan untuk mengkaji unsur – unsur kawasan permukiman yang berlokasi di Kelurahan Krobokan Kecamatan Semarang Barat, agar diketahui potensinya bagi penerapan konsep lingkungan 20 menit di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan permukiman telah memiliki kesesuai dengan karakteristik konsep lingkungan 20 menit, yakni kawasan yang dilengkapi dengan berbagai sarana fasilitas dasar dengan jarak yang dekat dari tempat tinggal. Hanya saja kondisi prasarana lingkungan yang ada belum walkable atau ramah bagi pejalan kaki.


Keywords


Arsitektur, Lingkungan Binaan, Perancangan perkotaan, Perumahan, permukiman,

Full Text:

PDF

References


Alhamidi, R., & dkk. (2013). Aging in our Communities: Six Case Studies of Neighborhood Walkability in Clackamas and Washington Counties, Oregon and Clark County,Washington. Portland State University, 3-15.

Atika, F. A. (2020). Housing Quality pada Permukiman Informal Sempadan Rel Kereta Api, Dupak Magersari, Surabaya. Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan VIII 2020-Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, 411.

Badan Standarisasi Nasional . (2014). SNI Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

Calafiore, A., & dkk. (2021). The 20-minute city: An equity analysis of Liverpool City Region. Elsevier, Transportation Research Part D, 1-16.

Departement of Transport, The Government Of Western Australia. (2011). Walkability Audit Tool. Perth: Departement of Transport, The Government Of Western Australia.

Gorman , S. O., & Robinson, R. D. (2021). 20 Minute Neighbourhoods in a Scottish Context. Climate Change, 2-11.

Hafnizar, Y., Izziah, & Saleh, S. M. (2017). Pengaruh Kenyamanan Terhadap Penerapan Konsep Walkable Di Kawasan Pusat Kota Lama. Jurnal Teknik Sipil, 271 - 284.

Krambeck, H. V. (2006). The Global Walkability Index. Master in City Planning and Master of Science in Transportation at the Massachusetts Institute of Technology, 13.

NZ Transport Agency. (2009). Pedestrian Planning and Design Guide. Wellington: NZ Transport Agency.

Pemerintah Kota Semarang. (2021). Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 5 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang Tahun 2011 - 2031. Semarang: Sekretariat Daerah.

Republik Indonesia. (2011). Undang - Undang Nomor 1 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM.

Sarosa, W. (2020). Kota Untuk Semua - Hunian Yang Selaras Dengan Sustainable Development Goals dan New Urban Agenda. Jakarta: Expose.

Speck, J. (2013). Walkable City, How Downtown Can Save America, One Step At A Time. New York: North Point Press, a division of Farrar, Straus and Giroux.

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitaif Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

TCPA. (2021). 20 - Minute Neighbourhoods (Creating Healthier, Active, Prosperous Communities An Introduction for Council Planners in England). London: TCPA (Town and Country Planning Association, England).

Victoria State Government. (2019). 20 - Minute Neighbourhoods (Creating a More Liveable Melbourne). Melbourne: The State of Victoria Department of Environment, Land, Water and Planning 2019.

Walikota Semarang. (2014). Keputusan Walikota Semarang Nomor 050/801/2014 tentang Penetapan Lokasi Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Kota Semarang. Semarang: Pemkot Semarang.




DOI: https://doi.org/10.31848/arcade.v6i1.942

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

PUBLISHER ADDRESS:
Department of Architecture, Universitas Kebangsaan,  Jl. Terusan Halimun No.37, Lkr. Sel., Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40263. E-mail address: jurnalarsitekturarcade@gmail.com

Free counters!