PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR INDISCHE DALAM PERANCANGAN PASTORAN GEREJA SANTO ANTONIUS KOTABARU DI YOGYAKARTA

Sinta Dewi, Sushardjanti Felasari, Yoseph Duna Sihesa, Samsul Hasibuan

Abstract


Abstract: Being located in the centre of cultural heritage area of Kotabaru, city of  Yogyakarta,  the Saint Anthony Catholic Church then is known as Kotabaru Church (Dutch: Nieuw Wijk Katholieke Kerk). The church is located in Abu Bakar Ali street (Boulevard Jonquiere) and I Dewa Nyoman Oka street (Sultansboulevard). As one of the eldest churches in the city, the church was built during the colonial time and inaugurated in 1926 by Mgr. A. Van Velsen SJ, the Bishop of Jakarta. In 2014 The Saint Anthony Church was stated as a cultural heritage building. In October 2016 the Church bought a piece of land with a building on it, adjacent to its parish house. The two story building was half constructed, developed from a single story Indische architectural style building which unfortunately was already destroyed, leaving only a small part of its original building entrance. The building was planned to be functioned as the new parish house with a spatial connection to the old parish house. Despite the strong recommendation to reduce the expenses by making minimum physical changes, the building especially the façade should be redesigned as far as possible to be restored to its original façade and according to the requirements as an Indische architectural style building. As a part of the cultural heritage buildings in the area of Kotabaru, the new parish house should perform contextual architectural style and elements. Furthermore, the design results are proposed three alternatives and presented in the form of floorplans and elevations.

Abstrak: Terletak di tengah kawasan cagar budaya Kotabaru, Kota Yogyakarta, Gereja Katolik Santo Antonius kemudian dikenal dengan nama Gereja Kotabaru (Bahasa Belanda: Nieuw Wijk Katholieke Kerk). Gereja tersebut terletak di Jalan Abu Bakar Ali (Boulevard Jonquiere) dan Jalan I Dewa Nyoman Oka (Sultansboulevard). Sebagai salah satu gereja tertua di kota Yogyakarta, gereja ini dibangun pada masa kolonial dan diresmikan pada tahun 1926 oleh Mgr. A. Van Velsen SJ, Uskup Jakarta. Pada tahun 2014 Gereja Santo Antonius ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Pada bulan Oktober 2016 Gereja membeli sebidang tanah dengan sebuah bangunan di atasnya, bersebelahan dengan rumah parokinya. Bangunan berlantai dua ini setengah dibangun, dikembangkan dari bangunan bergaya arsitektur Indische berlantai satu yang sayangnya sudah hancur, hanya menyisakan sebagian kecil dari entrance bangunan aslinya. Gedung tersebut rencananya akan difungsikan sebagai rumah paroki baru dengan keterkaitan spasial dengan rumah paroki lama. Meskipun ada rekomendasi kuat untuk mengurangi biaya dengan melakukan perubahan fisik seminimal mungkin, bangunan terutama fasad harus didesain ulang sejauh mungkin untuk dikembalikan ke fasad aslinya dan sesuai dengan persyaratan sebagai bangunan bergaya arsitektur Indische. Sebagai bagian dari bangunan cagar budaya di wilayah Kotabaru, rumah paroki baru hendaknya menampilkan gaya dan elemen arsitektur yang kontekstual. Selanjutnya, hasil rancangan diusulkan 3 alternatif dan disajikan dalam bentuk denah dan tampak bangunan.

Keywords


Arsitektur Indische, Kolonial, Pastoran, Paroki Kotabaru

Full Text:

PDF

References


Akihary, H. 1988. Architectuur En Stedebouw In Indonesie 1870-1970.

Handinoto. 1994. “‘Indische Empire Style’ Gaya Arsitektur ‘Tempo Doeloe’ Yang Sekarang Sudah Mulai Punah.” Dimensi (Desember):1–14.

Harisun, E & Conoras, M.A. 2018. “Karakteristik Tipologi Arsitektur Kolonial Belanda Rumah Bastion Benteng Fort Oranje Di Ternate.” Journal Of Science And Engineering 05(1):51–60.

Pane, I.F & Suwantoro, H. 2019. “The Study Of Indisch Architecture Development As An Effort In Preserving The Heritage Of Colonial History In Medan.” Budapest International Research And Critics Institute-Journal (Birci-Journal) 2(4):207–14.

Prasetio, R. C. 2016. “Ciri Khas Gaya Desain Indische Pada Gereja- Gereja Di Jawa Timur Dan Jawa Tengah.” Jurnal Intra 4(2):233–38.

Ronarizkia, A & Giriwati, N. S. S. 2020. “Visual Character Of Colonial Building Facade In Suroyo Street Corridor, Probolinggo City Indonesia.” Local Wisdom 12(1):31–45.

Sari, P. A. 2007. Penataan Fasilitas Taman Baca Dan Rekreasi Dengan Pendekatan Arsitektur Kolonial.

Soekiman, D. 2000. Kebudayaan Indis Dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya Di Jawa. Bentang Budaya.

Sumalyo, Y. 1995. Arsitektur Kolonial Belanda Di Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Vitasurya, V. R. 2016. Rekam Jejak Arsitektur Indis Di Bintaran.

Wardani, L.K & Isada, A. 2009. “Gaya Desain Kolonial Belanda Pada Interior Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Surabaya.” Dimensi Interior 7(1):52–64.

Wibisono, W. 2004. Museum Seni Rupa Di Yogyakarta Dengan Tampilan Gaya Arsitektural Kolonial. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Wihardyanto, D. 2020. “Arsitektur Kolonial Belanda Di Indonesia Dalam Konteks Sejarah Filsafat Dan Filsafat Ilmu.” Langkau Betang: Jurnal Arsitektur 7(1):42–56.

Wulur, F.A., Kumurur, V.A., & Kaunang, I.R.B. 2015. “Gaya Bangunan Arsitektur Kolonial Pada Bangunan Umum Bersejarah Bersejarah Di Kota Manado.” Sabua 7(1):371–82.




DOI: https://doi.org/10.31848/arcade.v6i2.689

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

PUBLISHER ADDRESS:
Department of Architecture, Universitas Kebangsaan,  Jl. Terusan Halimun No.37, Lkr. Sel., Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40263. E-mail address: jurnalarsitekturarcade@gmail.com

Free counters!