PENGEMBANGAN DESAIN MICRO HOUSE DALAM MENUNJANG PROGRAM NET ZERO ENERGY BUILDINGS (NZE-Bs)

Asep Yudi Permana, Karto Wijaya, Hafiz Nurrahman, Aathira Farah Salsabilla Permana

Abstract


Abstract: Energy efficiency is a top priority in design, because design errors that result in wasteful energy will impact operational costs as long as the building operates. The opening protection in the facade should be adjusted according to their needs, for optimum use of sky light. Inhibiting the entry of solar heat into the room through the process of radiation, conduction or convection, optimum use of sky light and efforts to use building skin elements for shading are very wise efforts for energy savings. House construction planning must be careful and consider many things, including: physical potential. Physical potential is a consideration of building materials, geological conditions and local climate. Related to the issue of global warming that occurs in modern times, climate is a major consideration that needs to be resolved.
The purpose of building design, especially in residential homes aims to create amenities for its inhabitants. Amenities are achieved through physical comfort, be it spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, or visual comfort.
Energy waste is also caused by building designs that are not well integrated and even wrong and are not responsive to aspects of function, and climate. This is worsened by the tendency of the designers to prioritize aesthetic aspects (prevailing trends). The issue of green concepts and energy consumption efficiency through the Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) program from the housing sector as a response to tackling global warming is already familiar in Indonesia, although its application has not yet been found significantly. Green concepts offered by housing developers are often merely marketing tricks and are not realized and grow the responsibility of the residents to look after them. Due to the lack of understanding of the green concept, housing developers tend to offer more a beautiful and green housing environment, not the actual green concept.

Keyword: Socio-culture, Energy efficiency, Energy consumption, Environment. The green concept

Abstrak: Efisiensi energi merupakan prioritas utama dalam disain, karena kesalahan disain yang berakibat boros energi akan berdampak terhadap biaya opersional sepanjang bangunan tersebut beroperasi. Pelindung bukaan pada fasade sebaiknya dapat diatur sesuai kebutuhannya, untuk pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin. Penghambatan masuknya panas matahari kedalam ruangan baik melalui proses radiasi, konduksi atau konveksi, pemanfaatan terang langit seoptimal mungkin serta upaya pemanfaatan elemen kulit bangunan untuk pembayangan merupakan upaya yang sangat bijaksana bagi penghematan energi. Perencanaan pembangunan rumah harus cermat dan mempertimbangkan banyak hal, antara lain: potensi fisik. Potensi fisik adalah pertimbangan akan bahan bangunan, kondisi geologis dan iklim setempat. Terkait dengan isu pemanasan global yang terjadi pada masa modern ini, iklim menjadi sebuah pertimbangan utama yang perlu diselesaikan.
Tujuan desain bangunan khususnya pada rumah tinggal bertujuan menciptakan amenities bagi penghuninya. Amenities dicapai melalui kenyamanan fisik, baik itu spatial comfort, thermal comfort, auditory comfort, maupun visual comfort.
Pemborosan energi juga disebabkan oleh desain bangunan yang tidak terintegrasi dengan baik bahkan salah dan tidak tanggap terhadap aspek fungsi, serta iklim. Hal tersebut diperparah yang kecenderungan para perancang lebih mementingkan aspek estetis (tren yang berlaku). Isu konsep hijau dan efisiensi konsumsi energi melalui program Net Zero-Energy Buildings (NZE-Bs) dari sektor perumahan sebagai respon untuk menanggulangi pemanasan global sudah tidak asing di Indonesia, walaupun penerapannya masih belum dapat ditemukan secara signifikan. Konsep hijau yang ditawarkan oleh pengembang perumahan seringkali hanya sebagai trik pemasaran belaka dan tidak diwujudkan serta ditumbuhkan tanggung jawab para penghuni untuk menjaganya. Akibat minimnya pemahaman mengenai konsep hijau tersebut, para pengembang perumahan cenderung lebih banyak menawarkan lingkungan perumahan yang asri dan hijau, bukan konsep hijau yang sebenarnya.

Kata Kunci: Sosio-kultur, Efisiensi Energi, Konsumsi energi, Lingkungan, Konsep Hijau

Full Text:

PDF

References


Carmona, M., Heath, T., Oc, T., & Tiesdell, S. (2003). Urban Spaces-Public Places: The Dimensions of Urban Design. Oxford: Architectural Press.

Erhorn, H. (2013). The Age of Positive Energy Building has Come. Fraunhofer Institute of Building Physics, Stuttgart.

Fanger, P. (1972). Thermal Confort. New York: McGraw-Hill.

Frick, H., & Mulyani, T. H. (2006). Arsitektur Ekologis, Konsep arsitektur ekologis di iklim tropis, penghijauan kota dan kota ekologis, serta energi terbarukan. Semarang: Kanisius dan Soegijapranata University Press.

Hinrich, R. K. M. (2005). Energy-Its used and the Environment, Fourth edition. United States: Thomson Book Cole.

Invernizzi, T. (1998). Maion Tropical d’Asie. Koln: Benedickt Taschen Verlag GmbH.

Karyono, T. H. (2014). Green Architecture: Pengantar Pemahaman Arsitektur Hijau di Indonesia. (edisi ke-2). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kier, R. (1979). Urban Space. London: Academy Edition.

Kolokotsa, D., Rovas, D., Kosmatopoulos, E., & Kalaitzakis, K. (2010). A Roadmap towards intelligent net zero and positive enerby building. Journal Solar Energy. Retrieved from www.elsevier.com/locate/solener

Kostoff, S. (1977). The City Assembled: The Elements of Urban Form Through History. London: Thames and Hudson.

Krishan, A. (2001). Climate Responsive Architecture. New Delhi: Mc Graw Hill.

Latifah, N. L. (2015). Fisika Bangunan 1. Bandung: Griya Kreasi.

Miller, W. (2012). Anatomy of a Sub-tropical Positive Energy Home ( PEH ). Journal Building and Environment, 56, 57–68.

Mintorogo, D. S. (1999). Strategi “Daylighting” Pada Bangunan Multi-Lantai Diatas Dan Dibawah Permukaan Tanah. Dimensi Teknik Arsitektur, 27(1), 64–71.

Mustika, N. W. M. (2010). Optimasi pencahayaan alami untuk efisiensi energi pada rumah susun dengan konfigurasi Tower Di Denpasar Studi Kasus : Rumah Susun Dinas Kepolisian Daerah Bali. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya.

Permana, A. Y. (2014). Transformasi Gubahan Ruang: Pondokan Mahasiswa di Kawasan Balubur Tamansari Kota Bandung. Universitas Diponegoro. Retrieved from http://eprints.undip.ac.id/62084/

Permana, A. Y., Susanti, I., & Wijaya, K. (2017). KAJIAN OPTIMALISASI FASAD BANGUNAN RUMAH TINGGAL. Jurnal Arsitektur Arcade, 1(1), 27–34.

Prianto, E. (2012). Strategi Disain Fasad Rumah Tinggal Hemat Energi. Jurnal Riptek, Bappeda Kota Semarang, 6(1), 54–64.

Rachmat, W. B. (2000). Perkembangan Kota dan Beberapa Permasalahannya. Sebuah Bacaan Pelengkap untuk Sosiologi Masyarakat Kota. Yogyakarta: Fakultas Sosial dan Politik UGM.

Roaf, S., Hyde, R., Campbell, C., & Seigert, M. (2010). Transforming markets in the built environment and adapting to climate change: An introduction. Architectural Science Review, 53(1), 3–11. https://doi.org/10.3763/asre.2009.0104

Satwiko, P. (2005). Arsitektur Sadar Energi. Yogyakarta: Andi Press.

Setioko, B. (2010). Integrasi Ruang Perkotaan di Kelurahan Meteseh Kawasan Pinggiran Kota Semarang. Universitas Diponegoro.

Soegijanto. (1999). Pengaruh Selubung Bangunan terhadap Penggunaan Energi dalam Bangunan. In Seminar Arsitektur Hemat Energi. Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Sugiri, A., Buchori, I., & Soetomo, S. (2011). Sustainable Metropolitan Development: Towards an Operational Model for Semarang Metropolitan Region. The International Journal of Environmental, Cultural. Economic and Sosial Sustainability, 7(5).

Sukawi. (2011). Penerapan Konsep Sadar Energi dalam Perancangan Arsitektur yang Berkelanjutan. In Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya (Ed.), Prosiding Seminar Nasional A VoER ke-3 Palembang (pp. 136–143). Palembang: Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

Sunarti, Syahbana, J. A., & Manaf, A. (2014). Slum upgrading without displacement at Danukusuman Sub-District Surakarta City. International Transaction Journal of Engineering, Management, & Applied Sciences & Technologies, 5(3), 213–225. Retrieved from http://tuengr.com/V05/0213M.pdf

Thiers, S., & Peuportier, B. (2012). Energy and environmental assessment of two high energy performance residential buildings, 51, 276–284. https://doi.org/10.1016/j.buildenv.2011.11.018

UNEP SBCI. (2009). Building and Climate Change: Summary for decision makers. In UNEP DTIE Sustainable Consumption and Production Branch. Paris, France: UNEP SBCI, 2009, Building and Climate Change: SummarUNEP DTIE Sustainable Consumption and Production Branch.

UNESCAP, & UNHABITAT. (2008). Perumahan bagi Kamu Miskin di Kota-kota Asia. Urbanisasi: Peran Kaum Miskin di dalam perkembangan Kota. Bangkok Thailand: United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP).

Wai, T. K. (1994). Sustainable Symbiotic Systemic Phenomenon. New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Widayanti, R., Suparman, A., & Sekarsari, N. (2010). Kajian Aspek Pemakaian Energi Pada Sistem Bangunan Tradisional Jawa. In Seminar Teknik Arsitektur Universitas Gunadarma. Jakarta: Universitas Gunadharma.

Yuliani, S. (2013). Paradigma Ekologi Arsitektur sebagai Metode Perancangan dalam Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Retrieved from https://eprints.uns.ac.id/id/eprint/12832




DOI: https://doi.org/10.31848/arcade.v4i1.424

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

PUBLISHER ADDRESS:
Department of Architecture, Universitas Kebangsaan,  Jl. Terusan Halimun No.37, Lkr. Sel., Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40263. E-mail address: jurnalarsitekturarcade@gmail.com

Free counters!