PENGEMBANGAN DESA WISATA BATIK DI DESA PUNGSARI KABUPATEN SRAGEN JAWA TENGAH

Handayani Dwi Ambarwati, Setiawan Wisnu

Abstract


Abstract: Pungsari Village is a center for batik craftsmen who have long held the title of tourism villages in Sragen Regency. The title of this tourist village is one of the starting points for the growth of the creative economy embryo. These strategies make the environment something important and environmentally sound. In fact, the strategy has been programmed by the Ministry of Village with the theme of Development of Green Tourism Village in 2017. The program scenario has not used a development strategy that slogan "village build". For example, the development scenario does not yet entirely cover the village, such as: markets, settlements, rice fields, creative industries, and local socio-culture. Therefore, this article is intended to discuss aspects that can be done to develop Pungsari Tourism Village. This research is one of several definitions that can support the development of the village area. Furthermore, these parameters are to increase the tourism potential of tourist villages. This classification will be the basis for developing an environmentally sound rural area. Based on the results of this study, Pungsari Village has grouped characters into four additional clusters: socio-economic clusters, cultural-cultural clusters, residential clusters, and integrated development clusters.

Keyword: Creative Economy; Scenario of Tourism Village Development; Planning Cluster

Abstrak: Desa Pungsari merupakan sentra pengrajin batik yang telah lama memiliki gelar sebagai desa wisata di Kabupaten Sragen. Gelar desa wisata ini merupakan salah satu titik awal tumbuhnya embrio ekonomi kreatif. Strategi ini berpotensi sebagai penyerapan sumber daya lokal yang bersifat padat karya dan berwawasan lingkungan. Bahkan sebenarnya, strategi tersebut sudah diprogramkan Kementerian Desa dengan tema Pengembangan Desa Wisata Hijau pada tahun 2017. Skenario program tersebut belum mengacu pada strategi konsep pengembangan yang berslogan “desa membangun”. Sebagai contoh, skenario pengembangan belum seluruhnya mencakup potensi desa tersebut, seperti antara lain: pasar, permukiman, persawahan, industri kreatif batik, dan sosial-budaya setempat. Oleh karena itu, tulisan ini bermaksud untuk mendiskusikan aspek-aspek strategis yang dapat dilakukan untuk mengembangkan Desa Wisata Pungsari. Penelitian ini berangkat dari definisi variabel atau parameter yang dapat mendukung skema pengembangan kawasan desa tersebut. Selanjutnya, parameter tersebut digunakan untuk menyusun klasifikasi potensi desa wisata. Klasifikasi ini akan menjadi landasan pengembangan kawasan desa yang berwawasan lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, Desa Pungsari mempunyai karakter yang terkelompok menjadi empat kluster diantaranya : kluster sosial-ekonomi, kluster pendidikan-budaya, kluster pemukiman, dan kluster pengembangan terpadu.

Kata Kunci: Ekonomi Kreatif; Skenario Pengembangan Desa Wisata; Kluster Perencanaan

Full Text:

PDF

References


Budiningtyas, R. S. (2014). Showroom Batik di Kampung Batik Laweyan Respon Masyarakat Terhadap Pengembangan Pariwisata di Kawasan Cagar Budaya. Jurnal Nasional Pariwisata Volume 5 Nomor 3, 168-179.

Dewi, M. H., Fandeli, C., & Baiquni, M. (2013). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal di Desa Wisata jatiluwih, Tabanan, Bali. Kawistara Volume 3 Nomor 2, 131-134.

Hadi, S., & Wibowo, M. (2014). Pengembangan Potensi Desa Pilang Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen Menuju Kawasan Desa Wisata. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan Volume 3 Nomor 3, 170-184.

Kemenpar. (2010, Maret 18). kemenpar.go.id. Retrieved Mei 11, 2017, from (PNPM) Mandiri Pariwisata Melalui Desa Wisata: htttp://www.kemenpar.go.id

Pranyoto,V.S.(2016, Agustus 21). jogja.anataranews.com. Retrieved Juli 12, 2017, from Disbudpar Sleman Klasifikasi Ulang Desa Wisata: http://jogja.antaranews.com/berita/341726/disbudpar-sleman-klasifikasi-ulang-desa-wisata

Prasetyo, I. (2015, Juni 25). Kompasiana.com. Retrieved Juli 11, 2017, from Desa Wisata, Ancaman-Kapitalisme: htttp://www.kompasiana.com

Priasukmana, S., & Mulyadin, R. (2001). Pembangunan Desa Wisata : Pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah. Info Sosial Ekonomi Volume 2 Nomor 1, 37-44.

Wahyuni, S., Handini, Y. D., dan Khristanto, W. (2014). Pendekatan Triple Helix (ABG) dalam Pengembangan Desa Wisata Batik Tuban di Kabupaten Tuban.

Wijaya, K., & Permana, A. Y. (2018). Textile Tourism Image as an Identity of Cigondewah in Bandung City Textile Tourism Image as an Identity of Cigondewah in Bandung City. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 213(1), 12012. http://doi.org/10.1088/1755-1315/213/1/012012

Wulandari, L. W. (2014). Pengembangan Pariwisata Ekonomi Kreatif Desa Wisata Berbasis Budaya Sebagai Niche Market Destination (Studi Kasus Pengembangan Desa Wisata di Kabupaten Sleman). Aplikasi Bisnis Volume 16 Nomor 9, 2144.




DOI: https://doi.org/10.31848/arcade.v3i1.196

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

View My Stats

PUBLISHER ADDRESS:
Department of Architecture, Universitas Kebangsaan,  Jl. Terusan Halimun No.37, Lkr. Sel., Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat 40263. E-mail address: jurnalarsitekturarcade@gmail.com

Free counters!